Di atas langit masih ada langit.
Di atas yang merasa pantas, ada yang lebih pantas. Di atas yang merasa sudah baik, nyatanya banyak yang lebih baik.
| pict from pinterest |
Sedikit refleksi belakangan ini, aku dihadapi dengan beberapa kegagalan. Sebenarnya sudah biasa, dari dulu juga sudah sering gagal. Tapi yang sekarang entah rasanya lebih berat buat diterima. Biasanya, gagal tanpa persiapan maksimal rasanya biasa saja. Karena berpikir "Aku sadar kalo aku ngga maksimal. Kalo gagal yaudah, yang penting sudah mencoba". Beda jika kegagalan dengan penuh persiapan, planning yang diharap-harapkan sejak lama. Tapi nyatanya Tuhan belum berkehendak (belum, bukan tidak). Yaaa gapapa sih. Cuma rasanya seperti diajak melayang tinggi, dan dihempaskan ke bumi. Makin tinggi usaha dan harapan, kalau gagal sakitnya berkali lipat. Rasa optimis hilang, berganti jadi rasa pesimis dan rendah diri.
Crosscheck lagi, salahnya dimana?
Ternyata risetku kurang banyak, persiapanku belum matang, usahaku kurang keras, dan mungkin memang belum bejo saja. Tapi sekali lagi, gapapa. Tidak ada sesuatu yang berakhir sia-sia. Walaupun itu kegagalan, masih ada makna yang bisa dipelajari. Evaluasi. Tau apa kekuranganmu, kemudian perbaiki, dan berproses lebih baik kedepannya.
You're doing well. Prosesmu membuktikan usahamu yang anggaplah tidak terlalu buruk, tapi harus terus ditingkatkan. Jangan merasa tinggi, selamanya tetap jadi gelas kosong. Kalau ibarat angka, kamu itu 2. Di belakangmu ada 1, di depanmu ada 3. Kamu masih bisa jadi 3, 4, dst. Ini analogi ngasal sih, buat menghibur diri aja.
Btw, belakangan ini banyak nulis galau. Lagi agak kacau. Not ok, but alhamdulillah for everything.

Tidak ada komentar: